Selasa, 07 Desember 2010

Sekilas Tentang Pulau Tetangga Kepulauan Krakatau

PULAU SEBESI
Kondisi BIOLOGI PESISIR Desa Tejang dan Dusun regahan lada - pULAU SEBESI
Sebagai Suatu Upaya Untuk Pengembangan Ecotourism Wilayah Pulau
Oleh.  fd agung widodo
Pendahuluan
Provinsi Lampung yang memiliki luas daratan ± 35.376,5 Km2, terletak pada 103040’ BT sampai 105050’ BT dan 03045’ LS sampai 06045’ LS dengan panjang garis pantai ± 1.105 Km (termasuk beberapa pulau) dibagi menjadi 4 wilayah perairan, antara lain perairan Pantai Barat (± 210 Km), Teluk Semaka (± 200 Km), Teluk Lampung dan Selat Sunda (± 160 Km), dan Pantai Timur (± 270 Km). Sehingga tidak mengherankan jikalau wilayah perairan Provinsi Lampung memiliki potensi untuk dikembangkannya kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan atau lebih dikenal dengan ecotourism.  Namun semuanya itu perlu dukungan oleh semua pihak, baik pemerintah daerah, pusat, maupun warga.  Selain itu juga, kegiatan monitoring terhadap wilayah-wilayah tersebut perlu dilakukan, sehingga dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk sarana publikasi wisata.  Salah satu kegiatan ini adalah monitoring kondisi biologi pesisir, seperti kondisi ekosistem terumbu karang, hutan pantai, dan hutan mangrove.

Salah satu pulau di wilayah perairan Teluk Lampung-Selat Sunda Provinsi Lampung adalah Pulau Sebesi.  Pulau yang memiliki luas ± 2.620 Ha ini, secara administratif terletak di wilayah Kabupaten Lampung Selatan dan memiliki topografi wilayah berupa dataran landai hingga dataran tinggi sehingga dari kejauhan sepintas terlihat menjulang tinggi seperti bukit atau gunung di atas permukaan laut yang ditumbuhi beragam jenis tumbuhan yang didominasi pohon kelapa, sedangkan kondisi wilayah pesisirnya berupa batuan dan pasir.  Selain itu juga, pulau ini merupakan salah satu pulau berpenghuni yang terdekat dengan wilayah Cagar Alam Laut Kepulauan Krakatau, sehingga pada bagian selatan pulau (Dusun Gubug Seng) dapat terlihat panorama Kepulauan Krakatau.  Pulau Sebesi memiliki desa induk, yaitu Desa Tejang yang membawahi beberapa dusun seperti Regahan Lada, Segenom, dan Gubuk Seng.


Kondisi Biologi Pesisir
Pulau Sebesi memiliki daerah pesisir yang cukup beragam.  Daerah pantai berbatu yang umumnya dapat dijumpai di wilayah Barat Daya-Utara pulau dan pantai berpasir-berlumpur di wilayah Timur Laut hingga Selatan pulau.  Sedangkan vegetasi penyusunnya sendiri terdiri dari pohon penyusun hutan pantai (sebelah Selatan-Utara) dan penyusun hutan pasang surut/mangrove seperti Avicenia dan Rizhopora (sebelah Selatan – Timur Laut).  Hal ini berkaitan dengan komposisi substrat untuk tumbuh dan berkembangnya vegetasi tersebut yang umumnya cukup beragam.  Pada substrat yang terdiri dari pasir-batuan, tumbuh vegetasi penyusun hutan pantai seperti Waru Laut (Hibiscus sp), Ketapang (Terminalia sp), Beringin (Ficus sp), Pandan Duri (Pandanus tectorius), Cemara Laut (Casuarina sp) dan Putat Laut (Barringtonia sp).  Sedangkan pada substrat yang terdiri dari lumpur-pasir pada umumnya vegetasi penyusun hutan mangrove-lah yang mendominasi seperti Rhizopora sp (Bakau), Avicenia sp (Api-api), dan Sonneratia sp (Bogem).

Desa Tejang dan Dusun Regahan lada yang terletak pada bagian Timur dan Tenggara Pulau Sebesi, walaupun tidak begitu luas memiliki vegetasi pesisir yang cukup baik.  Selain vegetasi penyusun hutan pantai seperti Putat laut, Waru, Cemara Laut, dan Pandan berduri, ditemukan juga vegetasi hutan mangrove-nya seperti Api-api, Bakau, dan Bogem.  Keberadaan hutan mangrove itu sendiri tidak terlepas dari interaksi dengan sumber air tawar dan substrat yang sebagian besar terdiri dari lumpur dan sedikit berpasir. 

Pada wilayah terumbu karang-nya sendiri, sekeliling Pulau Sebesi merupakan tempat yang cukup ideal untuk tumbuh dan berkembang beragam hewan karang.   Namun kondisinya cukup memprihatinkan, hal ini disebabkan penggunaan bom yang cukup tinggi sebelum tahun 2000 dan lebih parah lagi masih dijumpainya penggunaan alat tangkap bubu oleh para nelayan. 

Pada akhirnya, dari aktivitas penangkapan hasil laut di sekitar wilayah terumbu karang oleh nelayan meninggalkan kehancuran pada ekosistem terumbu karang itu sendiri yang sekarang hanya didominasi oleh jenis algae seperti Hallimeda sp dan Sargassum sp.  Kondisi ini dapat terlihat dihampir seluruh wilayah terumbu karang di Pulau Sebesi.   Sebenarnya di Pulau Sebesi memiliki Daerah Perlindungan Laut (DPL) yang bertujuan untuk menjaga keberadaan ekosistem terumbu karang itu sendiri.   Salah satu tempat berada di Desa Tejang dan Dusun Regahan Lada.  Di Desa Tejang, wilayah DPL itu sendiri ± 7 Ha yang berada di Gosong Sawo (penduduk menyebutnya Pulau Sawo).  Gosong (patch reef) itu sendiri merupakan daerah terumbu karang yang berdasarkan pembentukan terumbu membentuk daerah dangkal yang terpisah dari pulau.

Gosong Sawo memiliki keragaman hewan karang, baik itu karang keras (hard corals) maupun karang lunak (soft corals).  Untuk karang keras dapat dijumpai keberadaan Goniophora sp, Stylophora sp, Acropora sp, Porites sp, Montipora sp, Poccilopora verrucosa, Pectinia sp, dan Fungia sp.  Karang-karang ini umumnya tumbuh pada substrat karang mati dan dapat dijumpai pada kedalaman 2 meter hingga 9 meter.   Diperkirakan kondisi karang keras yag hidup di DPL Gosong Sawo sekitar 20 %.


Sedangkan karang lunak pada umumnya didominasi oleh Xenia sp, Sarcophyton sp, dan Sinularia sp dan diperkirakan tumbuh menutupi wilayah ini sekitar 25%.  Sama seperti halnya karang keras, karang lunak tumbuh pada substrat karang mati dan dapat dijumpai pada kedalaman 2 meter hingga 5 meter.  Kedua kelompok karang tersebut saling berkompetisi dengan keberadaan biota lain seperti karang api (Millepora sp), algae penghasil kapur Hallimeda sp dan Sponge.

Selain keberadaan karang karas dan karang lunak, juga ditemukan biota asosiasi lain seperti moluska tidak bercangkang/nudibranch (seaslug) dari jenis Phyllidia sp dan Chromodoris sp, ikan karang dari kelompok Pomacanthridae (damselfish), Scaridae (Parrotfish), Chaetodontidae (butterflyfish), dan anemon fish (Amphiprion sp), Bintang laut Fromia sp, lili laut (Cenometra bella), serta Kima Tridacna sp.  Keberadaan biota asosiasi ini sangat tergantung dengan keberadaan daerah terumbu karang dan bersama-sama membentuk suatu hubungan dalam satu ekosistem.

















Selain keberadaan daerah perlindungan laut di Desa Tejang, Dusun Regahan Lada memiliki daerah rehabilitasi terumbu karang dengan teknik transplantasi karang.  Transplantasi karang merupakan model perbanyakan terumbu karang buatan dengan melakukan inplan pada substrat buatan (campuran semen-pasir).  Inplan ini merupakan fragmen atau potongan kecil dari terumbu karang yang didapat dari wilayah perairan Pulau Sebesi ataupun dari pulau-pulau tetangga.  Kemudian fragmen karang akan dilekatkan pada media atau substrat buatan yang merupakan campuran dari semen-pasir.  Substrat ini dapat berbentuk berupa blok atau balok persegi dan susunan balok yang disusun sedemikian rupa, sehingga membentuk bangunan seperti rak.

Terumbu karang yang telah ditanam ini pada umumnya telah berhasil baik, namun ada beberapa yang mengalami kematian oleh adanya gangguan sekitar seperti tertutupnya transplan karang oleh algae, lumpur yang terbawa oleh arus air, atau juga karena terlepas dari ikatannya.






Penutup
Demikianlah sekilas tentang kondisi biologi pesisir Pulau Sebesi.  Diharapkan dengan sedikit informasi ini, semua pihak akan semakin tanggap dan berusaha untuk turut serta menjaga kelestarian dan pentingnya keberadaan mereka sebagai salah satu modal lestari untuk memperbaiki dan mendukung ketahanan ekonomi melalui kegiatan wisata berwawasan lingkungan (ecotourism).  Untuk kedepannya semoga kita akan semakin menyadari bahwa perilaku dari manusia yang menyebabkan perubahan daya dukung lingkungan akan menyebabkan kerusakkan berarti terhadap ekosistem yang rentan ini, seperti ekosistem hutan pantai, hutan mangrove, dan terumbu karang.  Jika hal ini terjadi, maka akan sangat merugikan semua pihak dan oleh karena itu, semoga pemerintah dan warga akan bahu-membahu untuk turut serta pada perencanaan dan kegiatan rehabilitasi untuk pemulihan kondisi lingkungan yang telah rusak di sekitar kita ini.  Semoga...




kredit foto:fdawidodo&Yusuf